Permasalahan mengenai kearifan lokal Suku Bajo dengan karakter Bangsa Indonesia

Oktober 16, 2021 0 Comments

 



    Apa yang terlintas dipikiran kalian mengenai Suku Bajo? masih asing bukan, sebelum membahas lebih lanjut kita harus mengetahui dimana keberadaan suku tersebut. Pada saat ini, keberadaan Suku Bajo masih menjadi misteri. Akan tetapi keberadaan suku tersebut menyebar di wilayah perairan Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Selain itu, karena kebiasaan hidup yang menetap di atas perairan, maka dari itu Suku Bajo dapat berpindah setiap saat, kemudian Suku Bajo mendapat julukan sebagai pengembara laut. Kemampuan suku tersebut dapat menyelam hingga kedalaman 70 meter di bawah permukaan laut hanya dengan satu tarikan napas, dan saat berlayar hanya bermodalkan perahu kuno dan mengandalkan posisi bintang, tanpa peralatan penunjuk arah modern. Itulah sekilas informasi mengenai Suku Bajo dari kalangan masyarakat.

    Pada zaman dulu, penduduk Suku Bajo hanya hidup menggunakan perahu atau disebut dengan nomaden. Namun, sekarang banyak penduduk Bajo telah membangun rumah diatas laut dangkal sebagai tempat tinggalnya. Bukan hanya di Indonesia, Suku Bajo telah tersebar di lautan Malaysia, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia, mereka tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah Indonesia bagian timur lainnya. Sejarah mengatakan, suku ini berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina Selatan yang hidup di lautan lepas, hingga membawa Bajo masuk ke negara tercinta ini, Tanah Air Indonesia.



    Penduduk Bajo kebanyakan profesi sebagai nelayan, profesi nelayan bagi penduduk Bajo sebagai penjelajah laut adalah secara turun-menurun. Sejak kecil penduduk Bajo telah diajarkan bagaimana caranya memancing dan menyelam oleh orangtuanya. Mereka menyelam, mencari ikan, gurita, atau makhluk dalam air lainnya. Jadi, tidak heran jika keahlian menyelam mereka luar biasa karena telah dilatih sejak dini. Penduduk Suku Bajo juga dikenal ramah terhadap pengunjung. Keramahan anak-anak hingga orang dewasa Suku Bajo tidak akan terlupakan ketika mendatangi suku ini.  Selain itu, keterangan yang disampaikan oleh penulis ini mengkonfirmasi bahwa menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar merupakan sesuatu hal yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje. Oleh karena itu hubungan baik antara masyarakat Suku Bajo dengan masyarakat suku lain yang berada di desa sekitar terjalin dengan baik. Disamping itu, nilai-nilai kearifan lokal terlihat pada perlakuan masyarakat Suku Bajo terhadap lingkungan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh informan (Au) sebagai berikut :

“Untuk menjaga mangrove ada kerjasama dengan kawasan eko system esensial, dengan menambah kawasan 20 hektare untuk penanaman mangrove.Dengan adanya pelestarian mangrove maka merasa aman dari hantaman badai. Pembuatan rumah mengikuti aturan pemerintah desa, membangun rumah harus melapor untuk menata rumah dan terarah.Penambahan rumah ke arah belakang arah pesisir”.

    Sesuai keterangan di atas, Suku Bajo terutama yang tinggal di Desa Torosiaje merupakan sekelompok etnik yang hidup di atas laut, artinya lautlah menjadi tempat mereka melangsungkan kehidupan, termasuk mencari nafkah. Meskipun laut sebagai sumber untuk mempertahankan kelangsungan hidup, tetapi Suku Bajo sangat menjaga kelestarian laut terutama mangrove. Penduduk suku Bajo sangat berhati-hati untuk menjamin keselamatan Suku Bajo di masa-masa yang akan datang. Jika salah mengelola mangrove, maka kehidupan mereka tidak nyaman dari terpaan gelombang air laut.

    Kecintaan Suku Bajo terhadap laut sudah mulai secara turun temurun, bahkan sudah menjadi pola kebudayaan penduduk. Dalam penelitian (Utina, R, 2012) tentang “Kecerdasan Ekologis dalam Kearifan Lokal Masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje Provinsi Gorontalo”.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki kecerdasan  ekologis. Hal tersebut mereka tunjukan dalam tradisi (Mamalia Kadialo) antara lain :larangan membuang limbah ke laut yang menyebabkan pencemaran laut dan mengganggu ekosistem laut. Dilarang membuang abu dapur, abu rokok, air cabe, air jahe ke laut karena dapat mematikan ubur-ubur serta dilarang membuang air cucian wajan dan alat memasak mengandung arang yang dapat menyebabkan air keruh sehingga dapat mengganggu kehidupan terumbu karan.

    Penegasan dari Azis Wahab ini memberi arah bahwa untuk menuju bangsa yang jaya, maka konsisten pada penguatan kearifan lokal sebagai modal budaya bangsa sangatlah urgen.Selain itu, De Vos (Budimansyah dan Suryadi, 2008:77) menggambarkan bahwa karakter bangsa merupakan ciri kepribadian yang tetap khas ditemui pada penduduk negara bangsa tertentu.Tidak terkecuali kearifan lokal Suku Bajo yang berada di Desa Torosiaje.

    Berdasarkan penjalasan hubungan nilai kearifan lokal Suku Bajo dengan karakter bangsa Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter Suku Bajo yang tinggal di Desa Torosiaje memiliki keterkaitan dengan karakter bangsa Indonesia.Oleh karena itu, dipandang perlu untuk membangun dan menguatkan karakter Suku Bajo di Desa Torosiaje Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo, sebagai bagian dari karakter bangsa Indonesia.

    Kearifan lokal yang terbina secara turun temurun pada masyarakat Suku Bajo yang tinggal di Desa Torosiaje seperti kebersamaan, toleransi, persatuan, menjalin hubungan baik dengan masyarakat desa sekitar serta cinta terhadap lingkungan laut memiliki korelasi dengan karakter kebangsaan Indonesia. Nilai karakter kebangsaan Indonesia dibangun dari tradisi dan nilai kearifan lokal masing-masing daerah yang sudah terbangun sejak dahulu, tidak terkecuali kearifan lokal di Desa Torosiaje Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato.

 


Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: